"Puisi-puisi Wita Moulitia H. "

 

“Surat untuk Indonesia”

Oleh: Wita Moulitia Hasibuan

 

Indonesia, tanah airku.

pulau pulaunya yang membentang dari Sabang sampai merauku.

indah elok kaya akan alamnya flora dan fauna.

mataku, mata “mereka” tidak pernah merasa lelah akan keindahan tanah airku ini.

tanah airku, negeri yang amat ku cintai.

negeri yang memberikan ku kehidupan.

negeri yang mengajarkanku seluruh hal.

negeri yang membentukkan karakterku menjadi seorang pejuang.

negeri yang mencetak jutaaan pemuda pemudi untuk membela nya.

negeri yang membuatku tahu apa itu makna kemerdekaan.

aku bangga selalu akan negeri ku ini.

tapi, akan tetapi.

Indonesiaku tidak pernah lepas dari kisah ketragisannya.

Indonesiaku ini ibarat pohon yang memberikan banyak manfaat untuk orang lain.

dimana ada pohon maka muncul lah benalu-benalu.

benalu simbiosis prasitisme bagi pohon.

ia ditimpa akan keserakahan si benalu.

benalu yang selalu mengusiknya.

menyebabkan pohon, Indonesiaku tertutupi oleh si benalu.

dimana perlahan-lahan benalu ini akan menutupi dan menguasai.

sehingga yang terlihat dari Indonesiaku ini hanya benalu saja bukan pohon.

sungguh betapa malangnya nasib Indonesiaku ini.

dia memberikan tempat pada si benalu.

walaupun para benalu tidak memintanya, tetap dia berikan.

para benalu yang selalu mencoba mengambil keuntungan akan kebaikan si pohon.

 

Indonesia, tanah airku.

Tanah yang menemaniku dari aku lahir, aku hidup dari tanah ini.

Tanah air, tanah indonesiaku.

Mengapa bisa aku tidak mencintai tanah air ini.

Tanah yang memberikan kehidupan untukku, juga semua orang.

Tanah yang memberikan kekayaan yang berlimpah untuk penghuninya.

Betapa bersyukurnya aku hidup dari tanah airku ini.

Tidak akan kubiarkan siapapun yang mencoba merampas tanah airku.

Aku mencintaimu lebih dari apapun, tanah airku.

Akan ku pertahankan kau hingga setitik darah penghabisan yang ada pada diriku, tanah airku.

 

“Pesan untuk Ibu”

 

Setahun lebih aku dikarantina denganmu, ibu

Setiap pagi, bangun tidur.

Setiap malam, sebelum tidur.

Sudah menjadi kebiasaanku melihat wajahmu.

Rasanya ada yang kurang jika tidak melihat ibu.

Kemana ibu pergi, aku selalu ikut.

Kita selalu pergi bersama sama.

Ibu adalah orang yang sangat mengerti akan diriku.

Semua kebiasaan ibu sudah termemori di ingatanku.

Masakan yang ibu masak sudah menjejak di lidahku.

Namun. tidak pernah ku bayangkan ini tidak akan berlangsung lama.

Semenjak pemberitaan tatap muka.

Membuatku harus meninggalkan rumah.

Pergi ke tempat seharusnya aku berada.

Meninggalkan ibu sendirian di rumah.

Meninggalkan kenangan indah.

Selama karantina.

 

“Home”

 

Home.

Home isn’t just house.

Home is where you belong

Home is where you family and friends are

Home is the first place where you stand your feet and walking

Home is your childhood

Home is memory

Home is nostalgic place that you will never ever to be forgotten forever.


“Rainy Monday”

I see nothing but muddy wet earth

I step my feet on grass muddy look like

in a cloudy weather.

a cold wind in a comfortable place

raindrop on the muddy wet land

water streaming all around place

start new day with new plan

 

 

                                     Tentang Penulis



Wita Moulitia Hasibuan merupakan mahasiswi aktif semester 5 Universitas Andalas yang saat ini sedang menempuh kuliah di Fakultas Ilmu Budaya jurusan S1 sastra Inggris. Dia suka menulis puisi singkat dan juga mengutip kata-kata sebagai motivasi hidup dan dipublikasikan di akun sosial pribadi beliau. Dia juga meraih sertifikat sebagai pembicara dalam acara “YOT online Class: Get Into Your Dream University” yang diselenggarakan secara online.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE WAR BETWEEN PRONCESS AND STEPSISTER: DECONSTRUCTION IN CONCEPTS OF GOOD AND EVIL IN TWO DIFFERENT VERSIONS OF CINDERELLA STORYTALE (A COMPARATIVE PERSPECTIVE) Oleh H. S. Budi

Semesta Perempuan dalam Karya Oleh A. Suwistyo