Semesta Perempuan dalam Karya Oleh A. Suwistyo
Kebebasan dalam menuangkan ide-ide memicu lahirnya banyak ideologi dalam kehidupan manusia. Salah satunya yang paling sering diperdebatkan adalah “Feminisme”. Sebuah pemikiran tersebut sering memicu konflik dan emosi, sebab melahirkan perdebatan di dua jenis umat manusia, yang memiliki perbedaan signifikan, yaitu pria dan wanita. Mereka adalah dua jenis manusia yang diciptakan tuhan, dengan segala kelebihannya, dengan segala kedudukannya, dengan segala kelemahannya, dan dengan segala keegoisannya.
Pengertian feminisme
menurut Najmah dan Khatimah Sai’dah dalam bukunya yag berjudul Revisi Politik
Perempuan (2003:34) menyebutan bahwa feminisme adalah suatu kesadaran akan
penindasan dan eksploitasi terhadap perempuan yang terjadi dalam keluarga, di
tempat kerja, maupun di masyarakat serta adanya tindakan sadar akan laki-laki
maupun perempuan untuk mengubah keadaan tersebut. Feminisme adalah gerakan yang
menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki.
Pengertian feminisme dapat berubah dikarenakan oleh pemahaman atau pandangan
para feminis yang didasarkan atas realita secara historis dan budaya, serta
tingkat kesadaran persepsi dan perilaku.
Ketika membahas sebuah novel pendek “Esio Trot” yang ditulis oleh Roald Dahl pada 3 September 1990 tersebut terkesan seperti sebuah karangan untuk anak-anak, padahal Roald Dahl sebelumnya lebih sering menulis cerita yang kejam dan bacaan kalangan dewasa. Namun, novel anak-anak tersebut bisa diperbincangkan dan dikaji lebih kritis ketika kita, pembaca mampu menganalisisnya dari sudut pandang Feminisme.
Misalnya, ketika
sebuah karya fiksi bercerita mengenai kehidupan seorang perempuan yang bisa
“dilunakkan” hatinya setelah diberikan perjuangan dan pengorbanan dari seorang
pria. Konflik atau masalah tersebut menggambarkan bagaimana lemahnya seorang
wanita akan rayuan seorang pria. Penulis
terkesan menarasikan hati perempuan itu lemah dan mudah ditipu. Ini membuat
para pembaca yang sepemikiran dengan Feminisme tidak setuju jika perempuan
digambarkan sebodoh itu.
Penggambaran tingkah
laku Mr. Hoppy dan Mrs. Silver dalam novel tersebut mewakili dua ideologi yang
selalu bertentangan, yaitu Patriarki dan Feminisme. Sekilas, tokoh pria yang
ingin mendapatkan cinta seorang janda yang tinggal satu bangunan dengannya,
berusaha mencari berbagai cara untuk mendapatkan cinta tersebut. Setelah sekian
lama gagal dengan tekadnya, Mr. Hoppy menemukan sebuah benda yang sangat lemah
di dalam diri Mrs. Silver, yaitu perasaannya.
Merujuk kepada
masalah di kehidupan sosial, perasaan adalah titik terlemah seorang wanita.
Seorang wanita bisa berlagak keras, tegas, egois layaknya seorang pria. Namun,
jika perasaannya telah tersentuh, seorang wanita bisa kehilangan akalnya dan
memberikan segalanya kepada pria.
Potongan cerita yang
saya ambil di sini adalah adegan di mana Mr. Hoppy berusaha menipu Mrs. Silver.
Dia menukar kura-kura, Alfie, milik Mrs. Silver ke ukuran yang lebih besar agar
sang wanita takjub kepadanya. Tokoh pria juga digambarkan licik. Dia menukar
kura-kura secara perlahan agar sang wanita bisa percaya.
Ini yang saya maksud.
Hati perempuan itu lemah, menurut “Esio Trot”. Perempuan adalah segala yang
bisa ditipu. Feminisme secara terang-terangan menentang hal yang seperti ini.
Mereka meminta kesetaraan gender. Meminta perilakuan yang sama dalam hak.
Mereka juga tidak mau seorang perempuan digambarkan lemah, apalagi bodoh. Dan
juga, para pendukung Feminisme tidak juga meminta wanita selalu menjadi ratu.
Mereka hanya tidak mau dilecehkan.
Namun, bagaimana
jika feminisme yang ada di masa sekarang ini, hanya sebuah keegoisan perempuan
agar “muncul ke permukaan” dan merasa hebat? Apakah sebenarnya perempuan
sanggup?
Tentang Penulis
A.
Suwistyo.
Aktif menulis puisi, cerpen, resensi, dan essai. Berkegiatan di Padang. Saat ini telah menulis
2 buku, diantaranya : Lakon (2018) dan Sedasawarsa Lagi, Kita Menua (2019).
Karya-karyanya juga dapat ditemukan di berbagai antologi dan media massa : Haluan, Harian Rakyat Sumbar, Scientia.id,
Media Cakra Bangsa, Radar Malang, Bangka Pos, dan lain-lain.
.jpeg)

Komentar
Posting Komentar